Selasa, 17 Oktober 2017 - Pukul 08:59

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Klub Bahasa Sunda Pertahankan Bahasa Ibu

Oleh: M. Arlan Akbar - Jumat 28 Agustus 2015 | 18:00 WIB

Klub Bahasa Sunda Pertahankan Bahasa Ibu

arlan akbar/'BC'

BERITACIANJUR.COM – Peran pelestastarian bahasa daerah di Cianjur perlu diaparesiasi untuk meningkatkan pelestarian bahasa ibu dalam hal ini bahasa Sunda. Keberadaan klub bahasa daerah seperti klub bahasa asing selain menumbuhkan kecintaan memperdalam bahasa daerah dimaksudkan untuk mengantisipasi terpinggirkannya bahasa Sunda yang mulai termarjinalkan karena kurang dikembangkan oleh sistem pendidikan daerah.

 

Abah Ruskawan, Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur menjelaskan, bahasa Sunda selain bahasa ibu merupakan bahasa rasa. Ikut melestarikan perkembangan bahasa Sunda digunakan untuk memperdalam budaya dan kesenian Sunda keseluruhan, sebagimana terlaksana pada hari Rabu menjadi “Rabo Nyunda”.

 

Dijelaskannya, selama ini belum terdata berapa jumlah komunitas masyarakat yang berupa klub atau komunitas Sunda yang secara khusus menjadikan bahasa Sunda sebagai wadah pelestarian karena dianggap sebagai bahasa keseharian di Cianjur. Secara riil pengenalan di sekolah seperti Yayasan Pasundan yang tentu saja mengedepankan peran budaya Sunda dan keislaman yang lebih kental.

 

“Permasalahannya adalah dilingkungan masyarakat, harus terlibat peran berbagai pihak yang peduli dengan kepentingan pelestasian bahasa lewat kesenian atau penampilan cerita. Sementara ini padepokan Mamaos yang dikelola oleh Paguyuban sudah tidak ada.

 

Sebenarnya kontek pelestarian bahasa Sunda kembali lagi kepada kontek masyarakat yang harus bangga dengan bahasa Sunda. Sementara ini,  peningkatan kesejahtraan bagi guru bahasa Sunda belum ada dari pihak pemkab,” jelasnya kepada “BC”, Kamis (27/8).

 

Tidak hanya itu, momentum peringatan hari Bahasa Ibu yang ditetapkan pada 21 Februari bisa menjadi cara lain dalam upaya pelestarian bahasa Sunda.  “Monitoring dan evaluasi peran stakeholder bisa mengupayakan agar pelestarian bahasa Sunda lewat klub dan komunitas bisa dilaksanakan oleh masyarakat yang tentunya perlu dukungan dengan peningkatan anggaran mutu,” tandasnya. ***

Komentar