Jumat, 21 Juli 2017 - Pukul 09:29

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

traveling

MengenaI Istana Presiden Cipanas, Tempat Bekerja Presiden Indonesia

Oleh: Bisri Mustofa - Sabtu 08 Oktober 2016 | 13:00 WIB

MengenaI Istana Presiden Cipanas, Tempat Bekerja Presiden Indonesia

NET/Istana Presiden Cipanas

BERITACIANJUR.COM - Istana Kepresidenan Cipanas ini merupakan istana kepresidenan ketiga, setelah Istana Negara Jakarta dan Istana Kepresidenan Bogor. Satu lagu Istana Kepresidenan Tampak Siring Bali. Istana di daerah Cianjur ini dikenal dengan Istana Cipanas oleh masyarakat Indonesia maupun pejabat dikalangan pemerintahan. Lokasinya yang berada di Desa Cipanas, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur menjadikan istana ini dikenal Istana Cipanas.

 

Istana Kepresidenan, terletak di kaki Gunung Gede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tepatnya lebih kurang 103 km dari Jakarta kea rah Bandung melalui jalur Puncak Pass. Luas areal kompleks istana ini lebih kurang 26 hektare, namun sampai saat ini hanya 7.760 m2 yang digunakan untuk bangunan. Selebihnya dipenuhi dengan tanaman dan kebun tanaman hias yang asri, kebun sayur dan tanaman lain yang ditata seperti hutan kecil (larangan).

 

Kata "Cipanas" berasal dari bahasa Sunda, yaitu ci atau cai yang berarti "air" dan panas yang berarti "panas". Daerah ini dinamakan Cipanas karena di tempat ini terdapat sumber air panas alami, yang mengandung belerang, dan yang kebetulan berada di dalam kompleks istana Cipanas. Sehingga tidak diperuntukan untuk umum. Masyarakat atau siapun bisa mandi di Istana Cipanas, syaratnya cukup gampang, yakni menjadi Presiden RI atau menjadi keluarga Presiden terlebih dahulu.

 

Bangunan

Sebenarnya bangunan induk istana ini pada awalnya adalah milik pribadi seorang tuan tanah Belanda yang dibangun pada tahun 1740. Sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff bangunan ini dijadikan sebagai tempat peristirahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dibagian bawah istana terdapat ruang bawah tanah dan gudang tempat menyimpan barang-barang koleksi Istana serta tempat bekerja pengelola Istana.

 

Gedung Induk Istana Cipanas, sesuai dengan fungsinya terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang kerja, ruang rias, ruang makan, dan serambi belakang. Secara khusus, ruang tamunya berupa bangunan panggung yang berlantaikan kayu.

 

Beberapa bangunan yang terdapat di dalam kompleks ini antara lain Paviliun Yudhistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna yang dibangun secara bertahap pada 1916. Penamaan ini dilakukan setelah Indonesia Merdeka, oleh Presiden Sukarno. Di bagian belakang agak ke utara terdapat "Gedung Bentol", yang dibangun pada 1954, yang merupakan ruang pribadi Presiden Sukarno untuk  membuat tulisan maupun lukisan sambil melihat panorama dan megahnya Gunung Gede. Sedangkan dua bangunan terbaru yang dibangun pada 1983 adalah Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

 

Di dalam gedung ini terdepat sejumlah lukisan dari para pelukis ternama Indonesia maupun luar negeri, seperti Bsuki Abdullah. Setiap ruangan di Istana ini dilengkapi dengan perabot yang terbuat dari kayu. Di Istana ini tersimpa berbagai koleksi ukiran Jepara dan lukisan dari maestro seni lukis Indonesia seperti Basuki Abdullah, Dullah Sujoyo, dan Lee Man Fong.

 

Semua lukisan ini merupakan koleksi Sukarno yang tertata rapi menempel di setiap dinding. Bahkan ada beberapa lukisan yang harganya diatas untuk kendaraan sejenis Alphard.

 

Dalam salah satu ruangan, tepatnya di salah satu dinding lorong utama Gedung Induk, dipajang sebuah lukisan karya Soejono D.S, yang dibuatnya pada tahun 1958, dikenal dengan nama Jalan Seribu Pandang. Nama tersebut diabadikan kepada lukisan itu karena keistimewaannya, yaitu bahwa dari arah manapun, lukisan itu menarik dipandang mata. Lukisan Jalan Seribu Pandang judul aslinya adalah Jalan Menuju Kaliurang. Lukisan ini sangat spesial karena diminta langsung oleh Presiden Soekarno. Dan setelah melukis lukisan ini, pelukis tersebut tidak bisa melukis sebagus ini dengan obyek yang sama. (bis)

Komentar