Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:39

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Immatul Maisaroh, Eks PRT yang Jadi Anggota Penasehat Barack Obama

Oleh: Angga Purwanda - Jumat 21 Oktober 2016 | 21:59 WIB

Immatul Maisaroh, Eks PRT yang Jadi Anggota Penasehat Barack Obama

Foto: BC/Angga Purwanda

BERITACIANJUR.COM - Bagi masyarakat yang mengikuti proses pemilihan Presiden Amerika Serikat, di layar televisi dalam beberapa waktu terakhir, mungkin sudah mengetahui sosok Immatul Maisaroh, merupakan warga Negara Indonesia yang terpilih menjadi satu di antara para penasehat Presiden Barack Obama.


Ya, perempuan asal Dusun Krajan RT 24 RW 3, Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini menyempatkan diri untuk berkunjung ke Kabupaten Cianjur, pada Jumat (21/10/2016).


Dalam kunjungannya tersebut, Immatul Maisaroh berkesempatan untuk menyampaikan pengalaman hidupnya yang dianggapnya sebagai sebuah keajaiban, sebab dapat terpilih sebagai satu di antara penasehat pemimpin Negara adi daya (Amerika Serikat, red), Barack Obama.


Immatul menceritakan, berawal dari kisah perjodohannya dengan lelaki yang tak dicintainya di kampung halamannya, pada tahun 1996, dirinya memutuskan untuk kabur dari kampungnya di Malang, Jawa Timur dan lebih memilih buat bekerja ke luar negeri.


"Namanya juga perjodohan, dan pernikahan saya tak berlangsung lama," ucap Immatul, saat ditemui awak media di Kantor P2TP2A Kabupaten Cianjur, Jumat (21/10/2016) siang.


Tepatnya, di tahun 1997 untuk kali pertamanya, Immatul Maisaroh menginjakan kakinya di Negara Paman Sam (Amerika) itu. Di Negara itu, dirinya mencoba merubah nasib dengan menjadi seorang pembantu rumah tangga (PRT), tepatnya di Los Angeles, Amerika Serikat.


Bekerja disalah satu keluarga di Amerika, Immatul pun dijanjikan mendapatkan gaji sebesar 150 US$. Namun, selama tiga tahun bekerja bukannya mendapatkan hasil yang baik, dirinya kembali mendapatkan pengalaman buruk. Setelah sang majikan tempat di mana dirinya bekerja, memperlakukannya secara tak manusiawi.


"Jangankan mendapatkan gaji, justru saya mendapat perlakukan buruk dari majikan saya. Mulai perlakuan kasar dan pemukulan, saya dapatkan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga," ungkapnya.


Namun, kembali mendapatkan pengalaman buruk dalam hidupnya tak menjadikan perempuan bertubuh mungil ini jatuh dan kecewa. Dirinya memutuskan untuk kembali bangkit. Immatul mencoba untuk bergabung dengan salah satu organisasi nirlaba yang ada di Negara itu, yaitu Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST).


CAST merupakan organisasi yang menolong Immatul, untuk kabur dari siksaan majikannya. Dalam organisasi itu, Immatul bertugas sebagai koordinator bagi para korban perbudakan dan perdagangan manusia.


Tepatnya di tahun 2012, berkat keaktifannya di organisasi itu, dirinya pun ditunjuk oleh Presiden Barack Obama untuk menjadi anggota gugus tugas untuk pemantauan, dan pemberantas perdagangan manusia (PITF).


"Di tahun 2012, menjadi awal baik bagi kehidupan saya, dimana saya ditunjuk untuk menjadi anggota disalah satu gugus tugas yang menangani korban perbudakan dan perdagangan manusia," ucap Immatul.


Hingga akhirnya, tepatnya pada Desember 2015, Immatul berkesempatan terpilih oleh Presiden Barack Obama menjadi satu di antara 11 anggota penasehat orang nomor satu di Amerika Serikat itu.


"Namun, prosesnya tidak mudah. Saya harus mengikuti seleksi yang sangat ketat dan prosesnya sangat private. Tugas saya memberikan beberapa masukan atau nasehat untuk pemerintah atau Presiden Barack Obama," pungkasnya. (rus)

 

Baca Juga : Staf Obama Kunjungi Pendopo

Komentar