Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:41

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

traveling

Pariwisata Cipanas 'Stagnan'

Oleh: Rikky Yusup - Sabtu 22 Oktober 2016 | 11:00 WIB

Pariwisata Cipanas 'Stagnan'

BC/Dok

BERITACIANJUR.COM - Apa yang salah dengan sektor pariwisata di Cianjur Utara, terutama kawasan Cipanas ?. Untuk menjawabnya tidak begitu sulit karena pangkal utamanya permasalahannya terletak di salah urus pengelolaan wisata. Bisa dibilang sektor pariwisata Cipanas dalam posisi stagnan, keadaan yang tidak mengalami kemajuan. 

 

Tadinya jalur Puncak 2 digadang-gadang bisa mengurai kemacetan di sepanjang jalanan Bogor menuju Cianjur maupun sebaliknya. Tapi celakanya niatan itu tak kunjung membuahkan hasil karena terganjal permasalahan sehingga pembangunannya tertunda. Praktis upaya harapan tersebut hampir pupus karena tidak ada lagi yang diandalkan untuk memecahkan kebuntuan tersebut.


Kenyataanya begitu kawasan Kota Bunga mendunia tapi tetap saja kawasan wisata di Cirut masih kalah saing dengan wilayah tetangganya yakni Kabupaten Bogor. Tentu publik akan bertanya-tanya ada yang tidak beres dengan tata kelola wisata sehingga belum mampu menjawab tantangan zaman.


“Harusnya kalau mau maju maka pariwisata di Cipanas ini bisa mencontoh ke kota Batu di Malang. Hampir sama kondisi geografis yang mengandalkan panorama alam dan udara dingin pegunungan,” ujar pemerhati pariwisata, Muhammad Hilman Ansyari.


Pria yang akrab disapa Hilman ini menjelaskan, kota Batu tadinya tidak banyak disentuh wisatawan. Namun kini berbanding terbalik karena hampir setiap memasuki akhir pekan, sepanjang jalan terjebak kemacetan karena dibanjiri wisatawan. Sejumlah tempat wisata ketiban rejeki hingga pendapatan asli daerah (PAD) meningkat tajam.


“Saya mencermati perkembangan batu itu karena ide kreatif yang lahir dari putra di daerah diakomodir untuk pemimpinnya. Lalu muncul gagasan pengembangan pariwisata yang menunjukkan perkembangan signifikan hingga sekarang sudah terkenal luas,” imbuhnya.


Dia menyebutkan, Cipanas memiliki kelebihan dibanding wilayah lainnya yang berdekatan seperti Kabupaten Bogor namun lamban berkembang. Padahal, setiap wisatawan tak berkeberatan hanya untuk menikmati udara sejuk dan dinding rela bertahan dan menunggu antrian jalanan macet.


“Buktinya walaupun dijebak macet sana-sini tapi tetap saja orang berkunjung ke Cipanas itu tetap ada setiap memasuki akhir pekan. Tapikan kalau kondisinya sedikit lambat sehingga tidak berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat maupun peningkatan PAD,” imbunya.


Dia menyarankan, jika ingin berkembang ada baik pengelolaan pariwisata di Cipanas diatur secara tegas. Jika setengah hati dalam mengurusnya hanya akan membuang waktu percuma tapi berdampak positif untuk kedepannya. Keseriusan tersebut, sambung dia, hanya bisa diwujudkan melalui pembuktian nyata untuk menata skala prioritas.


“Tentukan dulu apa yang menjadi skala prioritas, jika memungkinkan libatkan partisipasi masyarakat lokal yang lebih kondisi lapangan. Jangan menyerahkan pengelolaan terhadap pihak yang terbukti tidak mampu menjalankannya. Potensi yang ada masih bisa diberdayakan daripada kondisi pariwisatanya bagaikan gelap gulita,” tegasnya.

 

Hal yang sama dinyatakan Sekjen Gerakan Masyarakat Cianjur Utara (GEMACITA), Endang Suryatna, ide kreatif yang lahir dari masyarakat setempat harus mendapatkan perhatian khusus. Lantaran selama ini terbukti bahwa pengelolaan pariwisata di Cipanas ini tidak mengalami kemajuan yang berarti. Padahal upaya mencontoh wilayah lain sudah dilakukan tapi kenyataannya masih belum membumi.


“Begitu sektor pariwisata ini mengalami kemajuan harus berdampak positif terhadap usaha lainnya sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi kenyataannya pariwisata di Cipanas ini lamban sekali perkembangannya, bisa jadi ada yang salah dengan pengelolaannya,” imbuhnya.


Dia menjelaskan upaya membangun pariwisata harus melibatkan semua lini, hanya saja diperlukan skala prioritas. Sehingga target pencapaiannya bisa terukur dan menuju kearah kemajuan.


“Kalau hanya ditata saja tapi tidak jelas target pencapaiannya itukan mubazir waktu saja. Jadi perlu ada skala prioritas agar fokus dalam melakukan tata kelola pariwisata di Cipanas ini,” pungkasnya. (ree)

 

Komentar