Selasa, 17 Oktober 2017 - Pukul 08:57

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

healthy life

Vaping Bisa Cegah Kecanduan Rokok?

Oleh: Rifqi Dahwan Aziz - Jumat 18 Nopember 2016 | 21:00 WIB

Vaping Bisa Cegah Kecanduan Rokok?

Net/Ilustrasi

BERITACIANJUR.COM - Demam vape alias vaping atau rokok elektrik memang sedang mewabah di Indonesia. Vape disebut-sebut sebagai produk rokok paling mutakhir. Tak sedikit para perokok kretek beralih ke vape. Alasannya beragam. Salah satunya, vape dianggap lebih kaya akan sensasi rasa.

 

Dikutip dari laman Liputan6, Jumat (18/11/2016), Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP Indonesia) mengungkap, rokok elektrik atau vaping bisa mencegah kecanduan seseorang terhadap rokok batangan.

 

Paparan ini disampaikan oleh Ketua YPKP Indonesia, Prof. Achmad Syawqie, DRG, MS bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran. Penelitian tersebut menyimpulkan, rokok elektrik merupakan alternatif pengganti rokok yang memiliki risiko jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan rokok konvensional.

 

Dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran,  Dr. Drg. Amaliya, MSc. PhD mengatakan, penelitian ini merupakan penelitian rokok elektrik pertama di Indonesia.

 

“YPKP Indonesia melihat saat ini banyak perokok di Indonesia yang mulai menyadari bahaya merokok, namun karena kecanduan nikotin sangat sulit bagi mereka untuk berhenti. Sayangnya, sebagai salah satu alternatif pengganti rokok yang sedang ramai digemari publik, kami belum melihat adanya kajian khusus yang menyasar pada manfaat dan mudarat rokok elektrik di Indonesia,” ujar Amaliya, seperti ditulis dalam keterangan pers, Jumat (18/11/2016).

 

Amaliya menjelaskan, hasil profil kromatografi atas kajian cairan dan uap rokok elektrik yang dilakukan oleh timnya selama enam bulan, mendapati adanya kandungan UP Propylene Glycol, USP Glycerin Natural/Vegetable, dan pemanis pada cairan rokok elektrik. Ketiga zat tersebut bukanlah zat berbahaya dan aman dikonsumsi oleh manusia.

 

Adapun kemungkinan bahaya yang ditimbulkan hanya saat zat-zat tersebut terdegradasi menjadi zat lain, namun hal ini hanya didapati pada 5 jenis cairan rokok elektrik setelah dipanaskan pada suhu tinggi.

 

Selain itu, kajian uap yang dilakukan pada produk rokok elektrik yang menggunakan teknologi dipanaskan bukan dibakar meskipun bahan baku utamanya adalah tembakau. Namun hal ini menunjukkan adanya penurunan konsentrasi kandungan setelah pemanasan dan tidak adanya degradasi yang menghasilkan zat baru berbahaya.

 

“Berdasarkan hasil kajian ilmiah ini, YPKP Indonesia merasa rokok elektrik berpotensi menjadi solusi masalah adiksi rokok di masyarakat Indonesia. Akan lebih baik apabila pemerintah dapat secara pararel melakukan kajian ilmiah agar dapat mengatur kebijakannya," ungkapnya.

 

Perdebatan mengenai rokok elektrik memang secara ilmiah masih kompleks. Sebuah penelitian yang dilakukan di Texas Tech University menemukan, rokok elektrik juga dapat menggoda anak muda untuk minum alkohol dan berhubungan dengan zat psikoaktif. 

Komentar