Jumat, 20 Oktober 2017 - Pukul 02:53

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Jembatan Kali Cicadas Ambruk, Warga Bangun Jembatan Darurat

Oleh: Apip Samlawi - Sabtu 26 Nopember 2016 | 14:00 WIB

Jembatan Kali Cicadas Ambruk, Warga Bangun Jembatan Darurat

Sejumlah warga Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi secara bergotong royong membangun kembali jembatan darurat yang mengalami kerusakan diatas kali Cicadas di Kampung Cicadas RT 01/RW 09. (Foto : BC/Apip Samlawi)

 

BERITACIANJUR.COM - Hanya butuh waktu dua minggu, warga Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi mampu membangun jembatan darurat Kali Cicadas yang melintang di Kampung Cicadas RT 01/RW 09. Jembatan tersebut sebelumnya pernah ambruk terseret bencana alam longsor pada tahun 2015 silam. Kemudian dibangun kembali ala kadarnya dengan menggunakan material kayu.

 

Hanya saja beberapa hari lalu, jembatan tersebut kembali rusak akibat bantalan kayunya lapuk. Melalui gotong royong dan swadaya warga, jembatan kayu dengan 21 meter, lebar 3,5 meter berhasil dibangun kembali dengan bahan material seadanya.

 

Menurut Kepala Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Supriatna (60), jembatan yang dibangun secara gotongroyong itu sudah tiga kali mengalami ambruk. Pada 2015 silam sempat ambruk terseret longsor. "Yang terakhir beberapa hari silam akibat bantalannya sudah lapuk akibat seringnya dilintasi beban berat," kata Supriatna saat dihubungi, Jum'at (25/11/2016).

 

Agar masyarakat tidak terganggu dalam menjalankan aktivitas, pihaknya segera mendorong untuk dilaksanakan pembangunan jembatan baru. Melalui swadaya dan gotongroyong bisa terlaksana meski jembatan darurat.

 

"Sebenarnya dulu pernah ada perusahaan yang menjanjikan akan membangun jembatan itu. Tapi sampai saat ini belum juga direalisasikan. Padahal jembatan ini merupakan akses vital bagi banyak orang," ungkapnya.

 

Pihaknya berencana akan membangun jembatan yang kini sementara waktu dibangun dengan bahan kayu dan bambu dengan kontruksi permanen. "Kita akan alokasikan anggaran dengan menggunakan bantuan Dana Desa (DD) tahun 2017. Sementara waktu asal warga bisa beraktivitas kita bangun dengan menggunakan kayu dan bambu," tegasnya.

 

Sementara itu, Ketua RT 03/RW 09 Ena Safaat (47) yang kampungnya terisolasi karena jembatannya ambruk  mengungkapkan, saat jembatan ambruk akses warga benar-benar terputus. Dengan dibangunnya kembali menggunakan bahan kayu dan bambu dirasakan bisa membantu akses warga dalam menjalankan aktivitas.

 

"Pada saat jembatan ambruk yang pertama, ada perusahaan yang menjanjikan akan membangun, tapi ternyata bohong. Buktinya sampai saat ini tidak ada pembangunan itu. Malah desa yang akan melakukan pembangunan. Bagi warga yang terpenting jembatan itu bisa dilalui dan tidak sampai mengganggu aktivitas warga," tandasnya. (bis)

Komentar