Rabu, 26 Juli 2017 - Pukul 11:49

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Blusukan Jokowi Versus Incognito Pak Harto, Mana Lebih Dekat Rakyat?

Oleh: kliksaja.co - Jumat 09 Desember 2016 | 18:00 WIB

Blusukan Jokowi Versus Incognito Pak Harto, Mana Lebih Dekat Rakyat?

kliksaja.co

BERITACIANJUR.COM - Joko Widodo yang melakukan blusukan sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga menjadi Gubernur Jakarta ini seolah menjadi pejabat pertama yang mau terjun ke masyarakat dan memberikan solusi atas masalah yang terjadi.

 

Gaya kepemimpinan pria yang kemudian akrab disapa Jokowi ini dianggap sebagai antitesis dari perilaku pejabat yang selama ini berada di balik tembok besar kekuasaan.

 

Jokowi berhasil dengan caranya. Ia seakan sedang mendobrak budaya penguasa dan berada di barisan rakyat jelata. Jokowi terpilih jadi Presiden RI.

 

Sebelumnya, saat terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia langsung menghentak publik dengan masuk ke gorong-gorong untuk memeriksa saluran pembuangan yang berada di Jalan MH THamrin di sekitar Bundaran Hotel Indonesia.

 

Kala itu tak ada pejabat yang menemani Jokowi turun ke dalam gorong-gorong. Dan hasilnya, Jokowi baru mengetahui bahwa diameter gorong-gorong Bundaran HI hanya 60 sentimeter.

 

“Bayangan saya, di bawah jalan-jalan di Jakarta gorong-gorongnya besar, bisa untuk sepak bola, tetapi kenyataannya cuma 60 sentimeter,”kata Jokowi saat itu.

 

Tidak berhenti di situ, Jokowi juga tetap mempertahankan gayanya meski telah menduduki istana negara.

 

Yang paling membuat heboh adalah ketika ia blusukan menangani kebakaran hutan dan menemui warga Suku Anak Dalam di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun.

 

Jokowi tanpa didampingi protokoler kepresidenan yang ketat rela duduk jongkok di kebun sawit dan berbicara sambil dikelilingi laki-laki Suku Anak Dalam yang sebagian hanya mengenakan kain untuk menutup aurat.

 

Begitu pula dengan caranya memperlakukan tamu negara, Jokowi kerap melakukan cara-cara yang tak biasa.

 

Contohnya ketika dia membawa PM Australia Malcolm Turnbull ke Blok A, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada 12 November 2015.

 

Jokowi dan Malcolm langsung menjadi pusat perhatian warga yang berbaris di belakang Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

 

Kedua kepala negara itu bahkan sempat selfie dengan telepon genggam yang dikeluarkan Malcolm dari saku celananya.

 

Ratusan masyarakat menjadi latar foto tersebut. Seketika, suasana menjadi lebih gaduh dari sebelumnya.

 

bull

 

Sambal Teri dan Tempe Kering Bekal Pak Harto

 

Tak bermaksud mengolok atau mendiskreditkan siapa pun. Tapi yang pasti, kini, kata ‘dekat’ dengan rakyat semacam pepesan kosong. Mengawang dan terawang-awang lantaran kesejahteraan masih jauh dari harapan.

 

Jauh sebelum ‘Blusukan’ menjadi tren pejabat akibat Jokowi effect, Presiden Soeharto pada dasarnya sudah ‘menyelam’ bersama rakyat.

 

Pak Harto bahkan melakukan penyamaran atau Incognito untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi.

 

Bukan bermaksud membela penguasa Orde Baru itu, faktanya menyamar ke kampung-kampung dilakukan Pak Harto dengan persiapan lebih sederhana.

 

Sampai hembusan nafas terakhirnya, tidak banyak yang tahu soal penyamaran Pak Harto.

 

Hingga hal ini dikuak oleh mantan Wakil Presiden Try Sutrisno pada saat peluncuran buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’ di TMII, Jakarta, Rabu 8 Juni 2011 silam.

 

sambal

 

Try yang tahun 70-an merupakan ajudan dan kerap menemani Pak Harto itu menyamar mengatakan bahwa tidak banyak yang tahu soal aktivitas atasannya termasuk pejabat-pejabat di wilayah yang mereka hampiri.

 

“Pesannya satu, tidak boleh ada yang tahu Pak Harto melakukan incognito,” kenang Try Sutrisno.

 

Ia menuturkan, jika sedang melakukan penyamaran, Soeharto biasanya hanya diiringi tiga mobil yang berisi dokter kepresidenan, pengawal, Pak Harto dan Try Soetrisno sendiri.

 

“Tidak ada protokoler, seadanya saja,” ungkapnya.

 

Yang paling menarik soal makanan. Selain membawa beras dari Jakarta, Soeharto juga selalu bawa bekal khusus dari Ibu Tien Soeharto.

 

“Bekalnya sambal teri dan kering tempe. Kalau sedang menyamar, kami betul-betul prihatin. Tapi Pak Harto sangat menikmati perjalanan itu,” kenang Try.

 

“Sebagai kepala negara Pak Harto merasa harus turun langsung, melihat sendiri bagaimana program-program pemerintah dilaksanakan, dan apa sudah langsung dirasakan masyarakat. Karenanya kami tidak pernah makan di restoran, tidur pun di rumah kepala desa atau penduduk,” ucap mantan Panglima ABRI tersebut.

 

Dalam setiap kunjungannya, Pak Harto juga berbaur dengan masyarakat sekitar, membantu petani turun ke sawah, mengetam padi dan memberi pupuk.

 

Tidak jarang Pak Harto memberi pengetahuan tentang katarak. Setelah itu dia biasanya menginstruksikan ajudan untuk berkoordinasi dengn Yayasan Darmais untuk melakukan operasi gratis.

 

“Pak Harto juga sering berbincang-bincang dengan ibu rumah tangga, nanya soal sandang pangan, memastikan cukup atau nggak, harga murah atau nggak. Kalau kepada petani tanya panennya bagaimana. Ke pedagang tanya pasokan barang bagaimana,” kata Try.

 

harto

 

Penguasa Orde Baru yang wafat dengan semat bintang lima itu lanjut Try, tidak pernah memperkenalkan identitas sebagai presiden.

 

Bahkan pernah suatu hari, para pedagang tidak tahu kalau mereka sedang berbicara dengan seorang presiden karena penampilan Soeharto memakai topi dan baju batik, mereka menyangka beliau adalah seorang mantri pasar.

 

Meski demikian, Pak Harto mendapat informasi langsung dari lapangan seputar permasalah seperti penggarapan tanah, pemakaian pupuk dan hal-hal yang menjadi kesulitan para petani.

 

Ada pula cerita Pak Harto menyambangi penampungan pengungsi korban banjir di kecamatan Pasirian kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

 

Ia langsung menengok dapur umum dan merasakan masakan yang akan dikirim kepada para korban. Pak Harto juga sempat memberikan pidato sejenak untuk membesarkan hati para korban banjir yang sedang kesusahan.

 

Dia juga menganjurkan kepada para korban untuk bertransmigrasi ke luar Jawa, karena dengan bertransmigrasi akan lebih menyejahterakan para petani sebab lahan pertanian lebih luas daripada di pulau Jawa.

 

“Presiden mencatat semuanya. Secara objektif diketahui daerah mana yang telah berhasil dan daerah mana yang perlu ditingkatkan. Semua dicek ulang di dalam rapat kabinet. Dengan begitu menteri tidak bisa berbohong. Kalau jelek ya harus dibilang jelek, kalau bagus ya dibilang bagus karena Pak Harto mengetahuinya,” kata Try.

 

Dalam sebuah foto di buku tadi, Soeharto juga tampak kelelahan di tengah penyamarannya. Tapi, ia seakan tidak merasakan.

 

Pak Harto tetap semangat dan rela duduk di tanah bersandarkan pagar yang terbuat dari bambu atau menyantap pisang goreng dan segelas kopi di sebuah gubuk dengan tatapan optimistis akan kemakmuran negeri yang dipimpinnya.

 

gubuk

 

Bagi kita saat ini, siapa pemimpin yang paling rela mengabdi ke masyarakat? Jokowi, Pak Harto, atau keduanya memang sosok yang dekat dengan rakyat…? (kliksaja.co)

Komentar