Sabtu, 18 Nopember 2017 - Pukul 21:07

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?
Kang Anton

Jabatan, Amanah atau Aman Ah?

FAKTA atau sekelumit masalah yang pernah terangkum di Berita Cianjur, menjadi perhatian bahkan membuat bingung masyarakat Cianjur. Pemimpinnya ada, tapi masalahnya seolah…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

edukasi

Kaget, UN Kembali Diberlakukan

Oleh: cr7 - Selasa 20 Desember 2016 | 13:00 WIB

Kaget, UN Kembali Diberlakukan

Net/Ilustrasi

Pelajar Cianjur Terganggu Secara Psikis Hadapi Standar Kelulusan UN

 

BERITACIANJUR.COM - Pelajar di Kabupaten Cianjur, kembali harus mengurut dada setelah rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dimentahkan kembali Presiden Joko Widodo. Tahun 2017 mendatang, pelajar kembali harus mengikuti UN, setelah sebelumnya kebijakan pemerintah soal keluluasan ini bakal dihapuskan.

 

Sulastri salah seorang pelajar kelas III SMU di salah satu sekolah favorit di Cianjur, mengaku kaget setelah mendapat kabar, kalau UN kembali diberlakukan Pemerintah sebagai standar kelulusan sekolah. Padahal sebelumnya, pelajar berharap standar keluluasan bisa memakai kebijkaan sekolah atau daerah.

 

“Bukan masalah UN itu diberlakukan atau tidak, namun secara psikis memang sangat berpengaruh terhadap pelajar yang akan melaksanakan UN. Ada ketakutan kalau nilai tidak sesuai standar bisa jadi tidak lulus,” katanya.

 

Anak perempuan berjilbab ini, mengaku pasrah dengan keputusan pemerintah, karena sifatnya mengikat dan wajib dipatuhi semua pelaku pendidikan termasuk pelajar di Kabupaten Cianjur. Namun diharapkan, standar soal ujian dilihat dari pemerataan pendidikan yang terjadi di tanah air.

 

“Jangan sampai soal ujian itu standar kota besar seperti Jakarta. Meski kurikulum yang diberlakukan itu sama, namun kemungkinan beda dalam prosesnya jelas ada. UN harus adil untuk seluruh pelajar yang ada di Indonesia,” katanya.

 

Sulatri mengaku siap menghadapi UN, karena dalam catatan rekam jejak sekolahnya, tidak pernah ada pelajar yang tidak lulus sekolah karena standar nilai kurang dari yang ditentukan. Meski begitu, seharusnya pemerintah dari awal jangan menjanjikan adanya penghapusan UN.

 

Seperti diketahui dalam rapat terbatas yang dipimpin langsung Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Senin (19/12) kemarin, tegas orang nomer satu di Indonesia itu, pemerintah memutuskan tetap memberlakukan UN.

 

Seperti dikemukakan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang dilansir media online, kalau rapat memutuskan UN itu diberlakukan seperti sebelumnya. "Diputuskan UN itu tetap. UN yang sekarang berlaku, tetap diberlakukan begitu," ujarnya

 

Pramono juga menjelaskan pemerintah akan tetap melakukan sejumlah langkah penyempurnaan agar UN dapat menjadi pendongkrak intelektualitas murid.Pertama, pemerintah terus mendorong perbaikan kualitas guru.

 

"Guru yang sudah disertifikasi tentunya ditingkatkan dari waktu ke waktu kemampuannya sehingga dengan demikian akan ada evaluasi kinerja guru," ujar Pramono.

 

Jauh sebelumnya, pro dan kontra tentang UN memang menyeruak di Kabupaten Cianjur. Beberapa pihak berbeda pendapat, soal masih pantaskan UN diberlakukan dengan sejumlah efek terhadap pelajar yang selalu ditimbulkan setiap menghadapi UN.

 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Cecep Alamsyah, sempat berkomentar tidak setuju dengan rencana penghampusan UN. Pasalnya, kata Cecep, UN jadi parameter keberhasilan sebuah daerah dalam menjalankan program Pendidikan.  (ree)

Komentar