Selasa, 24 Oktober 2017 - Pukul 00:03

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

ragam

1 September, Tanggal Favorit Anak Jepang Bunuh Diri

Oleh: fl/bc.com/net - Selasa 01 September 2015 | 19:12 WIB

1 September, Tanggal Favorit Anak Jepang Bunuh Diri

Di Jepang ada tanggal-tanggal khusus di mana anak sekolah melakukan aksi nekatnya itu. Ada banyak anak sekolah di Jepang yang memutuskan bunuh diri di tanggal 1 September setiap tahunnya.

 

Tanggal 1 September, merupakan tanggal favorit di Jepang untuk bunuh diri dibanding 364 hari lainnya.

 

Data ini diperoleh dari lembaga pencegahan bunuh diri di Jepang yang telah dikumpulkan selama periode lebih dari 40 tahun.

 

Pemilihan tanggal ini sebagai tanggal keramat bunuh diri bukanlah tanggal acak tanpa sebab. Ternyata tanggal 1 September merupakan tanggal awal permulaan dimulainya kegiatan belajar mengajar di Jepang setelah libur musim panas.
 

"Liburan panjang dari sekolah membuat Anda bisa berada di dalam rumah. Jadi ini seperti surga untuk semua orang yang dibully," kata Nanae.
 

"Ketika musim panas berakhir, Anda harus kembali ke sekolah. Saat itu, dimulai juga kekhawatiran untuk dibully lagi, jadi memutuskan bunuh diri mungkin saja terjadi.
 

Psikiatris anak, Ken Takaoka mengungkapkan, angka bunuh diri meningkat ketika sekolah dimulai. Kata dia, anak yang tidak bisa berbaur atau tak termasuk dalam grup atau geng akan mengalami bullying.
 

Ini sebabnya, kehidupan mereka di sekolah sering diibaratkan dengan hidup di neraka.
 

Seperti diketahui, Jepang adalah negara yang punya angka bunuh diri tinggi di dunia. Parahnya lagi, angka bunuh diri yang tinggi ini didominasi oleh orang berusia 15-39 tahun.
 

Pemerintah mencatat bahwa ada 18.048 remaja yang berusia di bawah 18 tahun, bunuh diri di tahun 1972-2013.
 

Nanae termasuk remaja yang berpikir panjang. Sempat terlintas keinginan bunuh diri, namun dia membatalkannya.
 

"Saya berpikir kalau bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan bisa membuat masalah untuk orang tua saya. Dan bunuh diri tidak akan menyelesaikan apapun."
 

Alih-alih bunuh diri, Nanae memilih untuk berhenti sekolah. Dia tinggal di rumah hampir satu tahun.
 

Ibu Nanae, Mina Munemasa, mendukung keinginan anaknya. "Saya tidak berpikir kalau sekolah adalah sebuah tempat di mana Anda harus membahayakan hidup Anda sendiri." (fl/web)

Komentar