Selasa, 25 Juli 2017 - Pukul 05:30

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

inspirasi

Ini Beda Bung Karno dan Marcos Soal Benci pada The Beatles

Oleh: kliksaja.co - Jumat 30 Desember 2016 | 08:00 WIB

Ini Beda Bung Karno dan Marcos Soal Benci pada The Beatles

BERITACIANJUR.COM - Siapa tak kenal Presiden Soekarno? Siapa pula yang tak kenal band legendaris asal Inggris, The Beatles? Keduanya merupakan patron dalam bidangnya masing-masing di era 60-an atau pasca Perang Dunia II.

 

Dunia melihat Soekarno sebagai seorang pemimpin yang paling disegani di wilayah Asia setelah Jepang tak berdaya atas bom atom yang menimpa Hiroshima dan Nagasaki. Bung Karno, begitu ia akrab disapa pun berubah menjadi simbol anti-imperialisme barat.

 

Sementara The Beatles adalah sekumpulan anak muda yang paling digandrungi oleh dunia kala itu. Band asal Kota Liverpool tersebut tidak hanya menjadi kiblat musik modern, tapi juga simbol kebebasan anak muda yang ingin menjalankan hidup sesuai kehendaknya.

 

Meski Soekarno dan John lennon Cs merupakan simbol perlawanan, namun keduanya tidak pernah bersentuhan. Bung Karno bahkan secara tegas menolak atau ‘alergi’ dengan The Beatles yang dianggap sebagai sosok penghamba imperialisme kapitalis barat.

 

Rambut Gondrong dan Celana Jengki

Bung Karno melarang musik barat terdengar di nusantara. Seniman tanah air yang berkiblat pada The Beatles pun menjadi sasarannya. Termasuk Koes Plus yang dicekal karena dianggap musiknya sangat ‘beraroma’ barat.

 

Sebetulnya, yang dilarang Bung Karno saat itu tidak hanya musiknya, potongan rambut mirip personil The Beatles pun tidak diperbolehkan tampak di bumi Indonesia.

 

Dalam sebuah pidatonya tahun 1964, Bung Karno bahkan secara tegas meminta aparat kepolisian merazia anak-anak muda yang berpenampilan seperti Beatles.

 

Hasilnya, polisi langsung memotong rambut anak muda yang kedapatan bergaya ala Beatles. Selain musik dan potongan rambut, celana jengki ketat juga menjadi sasaran aparat. Ini karena pakaian itu juga dianggap simbol barat.

 

Penolakan Bung Karno pada musik barat juga pernah terekam dalam foto perjalanannya ke Yunani pada 9 Juli 1965.

 

Ia sempat menunjukkan ketidaksukaannya saat dihibur oleh band setempat, Trio Greco. Bung Karno tampak menutup kedua telinganya saat band itu tampil. Dan surat kabar St Pietersburg Times langsung menulisnya sebagai tajuk utama ‘However, he indicates that he doesn’t like it after all’.

 

 

Ketika Penguasa Murka…

Selain Bung Karno, pada era 60-an ada juga tokoh Asia yang sangat membenci The Beatles. Yakni Imelda Marcos atau istri  Presiden Filipina, Ferdinan Marcos. Ibu negara ini murka lantaran undangannya pernah ditolak The Beatles. Padahal saat itu, tepatnya pada 4 Juli 1966 anak-anak muda tersebut sedang berada di Manila untuk malakukan konser.

 

The Beatles menolak karena undangan khusus untuk pertunjukan di istana Imelda di luar jadwal tur mereka. Para pemuda gondrong itu berani-beraninya mengatakan ‘NO’ kepada istri diktaktor yang juga dikenal bertangan besi itu.

 

Cerita berawal ketika seluruh personil The Beatles sedang beristirahat di hotel setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari negaranya. Tiba-tiba, pintu kamar mereka langsung digedor oleh utusan Imelda yang datang dengan senjata lengkap.

 

“Cepat! Kalian harus ke istana sekarang juga. Kalian sudah ditunggu ibu negara,” teriak salah seorang petugas seperti dikutip dalam buku ‘Tembak Bung Karno’ yang ditulis Walentina Waluyanti De Jonge.

 

Tanpa pikir panjang, seluruh personil kompak menolak permintaan tersebut. “No, no, no,” jawab mereka tegas.

 

 

Setelah penolakan tersebut, The Beatles merasakan sangat jelas adanya skenario untuk mengintimidasi mereka selama di Manila. Konser yang direncanakan bakal dihadiri oleh ribuan penonton hanya berlangsung singkat dan cuma ditonton puluhan orang. Dan itu pun Beatles tidak mendapat apapun, promotor musik tidak bersedia membayar.

 

Perlakukan buruk tidak hanya dirasakan setelah tiba di hotel, saat akan meninggalkan Manila caci maki juga dilontarkan massa sepanjang jalan menuju bandara. Bahkan ketika di pesawat mereka juga sempat dikerjai. Seluruh rombongan anak muda Inggris ini harus membawa sendiri koper dan peralatan mereka.

 

Kerusuhan juga sempat terjadi di Bandara, sekitar dua ratus orang mengamuk dan coba mencederai seluruh personil Beatles. Ringgo Starr juga bahkan terkena pukul massa hingga jatuh dan kakinya terkilir. Dan setelah bersusah payah, The Beatles akhirya bisa berada dalam pesawat dan pulang ke negaranya.

 

Setelah persitiwa The Beatles ini, Imelda Marcos langsung menyampaikan pendapatnya tentang musik yang dibawa pemuda asal Liverpool tersebut. Seolah melecehkan, ia mengaku tidak pernah menyukai The Beatles. “I never liked them anyway, their music is horrible,” kata Imelda Marcos seprti dikisahkan dalam buku berjudul The Beatles Anthology.

Komentar