Jumat, 28 Juli 2017 - Pukul 07:36

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

ekonomi bisnis

Di Pasar Modern Kota Sukabumi, Produk UKM Anak Tiri di Daerah Sendiri

Oleh: Toni - Rabu 04 Januari 2017 | 18:40 WIB

Di Pasar Modern Kota Sukabumi, Produk UKM Anak Tiri di Daerah Sendiri

Istimewa

BERITACIANJUR.COM - Kota Sukabumi memberikan peluang besar bagi produk Usaha Kecil Menengah (UKM). Jumlahnya sudah sampai 17.842 unit. Persoalannya, masih ada perlakuan diskriminatif. Terutama dari pelaku pasar yang besar.

 

Data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi menyebutkan bahwa jumlah pelaku UKM  mencapai 17.842 unit itu sebagai data yang tercatat. Artinya, jumlah ini belum menunjukkan angka yang riil.

 

Sebab, masih banyak UKM yang belum terdaftar di dinas tersebut. Karena, Kota Sukabumi memang menjadi surganya produk usaha kecil menengah (UKM). Mulai dari kuliner, kerajinan tangan, barang daur ulang dan lain-lain sudah mampu menembus pasar mancanegara, karena memiliki kualitas  yang tidak kalah dari produk-produk impor.

 

Namun persoalan muncul, justru saat pasar mancanegara memburu produk UKM dari daerah ini. Pasar modern, seperti minimarket, mal dan lain-lain malah tidak melirik karya anak negeri sendiri. Bahkan, berbagai syarat harus  ditempuh para pelaku UKM hanya untuk memajangkan produknya di pasar modern tersebut.

 

Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa pasar modern yang menetapkan peraturan monopoli. Seperti harus mengganti nama produk dan kemasannya dengan nama perusahaannya.

 

Selain itu,  informasi yang dihimpun Berita Sukabumi mengungkapkan, ada beberapa minimarket yang memungut biaya cukup besar agar pelaku UKM tersebut bisa mendisplaykan atau memajang produknya.

 

Biaya pun bervariasi. Mulai dari Rp 5 juta, bahkan ada yang mencapai puluhan juta rupiah. Ada lagi kebijakan lainnya yang terkesan diskriminatif. Seperti produk tersebut merek jualnya diganti dengan nama pasar modern tersebut.

 

Sehingga, pelaku UKM yang mayoritas keungannya terbatas, tinggal memilih memajang barang dagangannya tersebut harus membayar jutaan rupiah, atau merek produknya diganti. Ini sudah menjadi dilema yang berkepanjangan di kalangan pengusaha kecil tersebut.

 

Bahkan, parahnya lagi banyak minimarket yang memungut biaya cukup besar, jika ada pelaku UKM yang memanfaatkan lahan parkirnya. Jika tidak bisa membayar, maka yang ada hanya bisa gigit jari saja.

 

Padahal Pemerintah Kota Sukabumi sudah secara tegas agar setiap pasar modern turut membantu dalam mempromosikan produk kreatif karya warganya.

 

Salah seorang pelaku UKM yang begerak di bidang pengelohan ikan air tawar, Ade Sumiati tidak menolak hal ini. Dia mengungkapkan, bahkan untuk bisa memajangkan produknya tersebut di pasar modern seperti minimarket atau supermarket harus punya agunan minimalnya Rp10 juta.

 

"Saya sudah sering menawarkan produk olahan ikan air tawar ini ke beberapa pasar modern, namun selalu saja ditolak. Terkecuali menyewa stand yang ukurannya sangat kecil dan posisinya tidak strategis," ungkapnya.

 

Karena sudah kadung banyak dikecewakan oleh pelaku usaha pasar modern, ia memilih mempromosikan dan menjual produknya dengan cara dititip kepada pelaku UKM yang sudah maju, seperti di Mochi Kaswari.

 

Ade Sumiati, yang juga Ketua Kelompok Usaha Bersama Ades Mandiri, sangat menyayangkan sikap pasar modern yang menolak produk UKM dari Sukabumi. Tetapi, memudahkan bahkan mengistimewakan produk-produk impor seperti dipajang di stand strategis.

 

Senada dengannya, pelaku UKM olahan ikan nila Kober Saluyu, Nurhasanah mengatakan produknya ini pernah ditetapkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI pada 2013 lalu sebagai produk terbaik nasional. Namun tetap saja tidak bisa menebus pasar swalayan, minimarket apalagi supermarket. Terkecuali menyiapkan sejumlah uang untuk agunan dan biaya sewa.

Komentar