Sabtu, 20 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Di Pasar Modern Kota Sukabumi, Produk UKM Anak Tiri di Daerah Sendiri

Toni

Rabu, 04 Januari 2017 - 18:40 WIB

Istimewa
Istimewa
A A A

BERITACIANJUR.COM - Kota Sukabumi memberikan peluang besar bagi produk Usaha Kecil Menengah (UKM). Jumlahnya sudah sampai 17.842 unit. Persoalannya, masih ada perlakuan diskriminatif. Terutama dari pelaku pasar yang besar.

Data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Sukabumi menyebutkan bahwa jumlah pelaku UKM  mencapai 17.842 unit itu sebagai data yang tercatat. Artinya, jumlah ini belum menunjukkan angka yang riil.

Sebab, masih banyak UKM yang belum terdaftar di dinas tersebut. Karena, Kota Sukabumi memang menjadi surganya produk usaha kecil menengah (UKM). Mulai dari kuliner, kerajinan tangan, barang daur ulang dan lain-lain sudah mampu menembus pasar mancanegara, karena memiliki kualitas  yang tidak kalah dari produk-produk impor.

Namun persoalan muncul, justru saat pasar mancanegara memburu produk UKM dari daerah ini. Pasar modern, seperti minimarket, mal dan lain-lain malah tidak melirik karya anak negeri sendiri. Bahkan, berbagai syarat harus  ditempuh para pelaku UKM hanya untuk memajangkan produknya di pasar modern tersebut.

Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa pasar modern yang menetapkan peraturan monopoli. Seperti harus mengganti nama produk dan kemasannya dengan nama perusahaannya.

Selain itu,  informasi yang dihimpun Berita Sukabumi mengungkapkan, ada beberapa minimarket yang memungut biaya cukup besar agar pelaku UKM tersebut bisa mendisplaykan atau memajang produknya.

Biaya pun bervariasi. Mulai dari Rp 5 juta, bahkan ada yang mencapai puluhan juta rupiah. Ada lagi kebijakan lainnya yang terkesan diskriminatif. Seperti produk tersebut merek jualnya diganti dengan nama pasar modern tersebut.

Sehingga, pelaku UKM yang mayoritas keungannya terbatas, tinggal memilih memajang barang dagangannya tersebut harus membayar jutaan rupiah, atau merek produknya diganti. Ini sudah menjadi dilema yang berkepanjangan di kalangan pengusaha kecil tersebut.

Bahkan, parahnya lagi banyak minimarket yang memungut biaya cukup besar, jika ada pelaku UKM yang memanfaatkan lahan parkirnya. Jika tidak bisa membayar, maka yang ada hanya bisa gigit jari saja.

Padahal Pemerintah Kota Sukabumi sudah secara tegas agar setiap pasar modern turut membantu dalam mempromosikan produk kreatif karya warganya.

Salah seorang pelaku UKM yang begerak di bidang pengelohan ikan air tawar, Ade Sumiati tidak menolak hal ini. Dia mengungkapkan, bahkan untuk bisa memajangkan produknya tersebut di pasar modern seperti minimarket atau supermarket harus punya agunan minimalnya Rp10 juta.

"Saya sudah sering menawarkan produk olahan ikan air tawar ini ke beberapa pasar modern, namun selalu saja ditolak. Terkecuali menyewa stand yang ukurannya sangat kecil dan posisinya tidak strategis," ungkapnya.

Karena sudah kadung banyak dikecewakan oleh pelaku usaha pasar modern, ia memilih mempromosikan dan menjual produknya dengan cara dititip kepada pelaku UKM yang sudah maju, seperti di Mochi Kaswari.

Ade Sumiati, yang juga Ketua Kelompok Usaha Bersama Ades Mandiri, sangat menyayangkan sikap pasar modern yang menolak produk UKM dari Sukabumi. Tetapi, memudahkan bahkan mengistimewakan produk-produk impor seperti dipajang di stand strategis.

Senada dengannya, pelaku UKM olahan ikan nila Kober Saluyu, Nurhasanah mengatakan produknya ini pernah ditetapkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM RI pada 2013 lalu sebagai produk terbaik nasional. Namun tetap saja tidak bisa menebus pasar swalayan, minimarket apalagi supermarket. Terkecuali menyiapkan sejumlah uang untuk agunan dan biaya sewa.

Komentar Berita

Berita Lainnya

Aktualita 15 jam yang lalu

Pemkab Cianjur Tolak Kebijakan Impor Beras

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur menolak kebijakan impor beras yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Hal itu diungkapkan, Wakil Cianjur, Herman Suherman, saat menghadiri acara panen raya padi di…

Aktualita 20 jam yang lalu

Terbongkar, RSUD Masih Berkilah

PENYEBAB amburadulnya pengelolaan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur, sudah terbongkar. Namun pejabat rumah sakit plat merah tersebut masih…

Aktualita 21 jam yang lalu

Komisi III Sidak, Pejabat RSUD Tak Ada di Tempat

KOMISI III DPRD Cianjur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Sayang Cianjur, Kamis (18/1/2018) siang.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:54 WIB

Aksi Maling Zaman Now

AKHIR-akhir ini kawanan maling spesial kantor desa tengah giat melancarkan aksinya ke sejumlah desa di wilayah Timur Kabupaten Cianjur.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:53 WIB

Pencetakan e KTP Dipusatkan di Kecamatan Ciranjang

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur menunjuk Kecamatan Ciranjang sebagai tempat pusat layanan pembuatan e-KTP dan Kartu Keluarga (KK) bagi masyarakat yang ada di 5 Kecamatan. Antaralain, Kecamatan Ciranjang,…

Cianjur Euy 18/01/2018 21:52 WIB

Harga Daging Ayam di Cianjur Masih Capai Rp 36 Ribu Per Kg

MESKI harga daging ayam potong di Cianjur disepakati Rp 33 ribu per kilogram (Kg). Namun, dipasaran harga daging unggas itu masih terbilang mahal, mencapai Rp 36 ribu per kg.

Cianjur Euy 18/01/2018 21:51 WIB

Polres Sidak Sekolah, Sejumlah Siswa Terbukti Simpan Video Porno

PASCA terungkapnya pesta seks sesama jenis, yang satu diantara pelakunya masih berstatus pelajar. Polres Cianjur gencarkan sosialisasi dan antisipasi dengan menyambangi sejumlah SMA/SMK di Kabupaten Cianjur,…

Cianjur Euy 18/01/2018 21:50 WIB

Bulan Ini, Pasien Difteri Capai 15 Orang

PASIEN Difteri yang ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang, Cianjur jumlahnya terus bertambah. Sejak awal 2018, jumlah pasien penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi di selaput lendir hidung…

Aktualita 18/01/2018 08:10 WIB

BPLHD dan Penyidik Polda Jabar Datangi RSUD, Ada Apa?

SEGUDANG masalah terjadi di RSUD Sayang Cianjur. Tak hanya soal limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibiarkan menumpuk di ruangan terbuka, namun juga terdapat dua masalah besar lainnya yang hingga…

Aktualita 18/01/2018 08:05 WIB

Ini Pembohongan Publik, Wajib Diusut Tuntas

TERUNGKAPNYA kebohongan pernyataan pihak RSUD melalui Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, yang menyebutkan permasalahan menumpuknya limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) itu gara-gara kesalahan…