Jumat, 28 Juli 2017 - Pukul 07:43

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

aktualita

19 Tahun Mengilang, TKI Asal Indramayu Akhirnya Ditemukan

Oleh: Rudi Rusmana - Jumat 06 Januari 2017 | 00:50 WIB

19 Tahun Mengilang, TKI Asal Indramayu Akhirnya Ditemukan

Foto: kliksaja.co

Betah Dengan Majikan di Jeddah

 

BERITACIANJUR.COM - Kesan mengerikan bekerja di negeri orang sebagai asisten rumah tangga, tidak selamanya dialami para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Jika beruntung bertemu dengan majikan yang baik hati, para tenaga kerja bahkan lupa memiliki keluarga di Indonesia.


Hal itulah yang dialami TKI bernama Juariah Mastara. Wanita asal Blok Karang Moncol, Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini seakan sudah lupa memiliki keluarga di Indonesia.


Seperti dilansir laman kliksaja.co, setelah 19 tahun pihak keluarga mencarinya, Juariah akhirnya berhasil ditemukan Tim Perlindungan WNI KJRI Jeddah di penghujung 2016 kemarin. Ia ditemukan di Distrik Al-Qaim, di daerah Taif, Arab Saudi, yang berjarak sekitar 200 KM dari KJRI Jeddah.


Tim Perlindungan melacak keberadaan Juariah, melalui komunikasi intensif dengan berbagai instansi terkait pemerintah setempat, dan baru menemukan titik terang setelah menerima laporan ditemukannya Juariah dari pihak kepolisian Taif KJRI Jeddah, sebagai respons atas nota diplomatik yang dikirimkan KJRI Jeddah ke kantor Gubernur Taif, melalui Kemlu Arab Saudi.


“Juariah dijemput pihak kepolisian Taif, di sebuah acara undangan pernikahan dan langsung dibawa ke kantor polisi. Kami langsung meluncur ke sana (kantor polisi),” tutur Hertanto, Staf Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah, seperti dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (5/1/2017).


Juariah akhirnya dibawa Tim Perlindungan, dan kini ditempatkan di rumah persinggahan sementara ke KJRI Jeddah.


Saat ditanya, baik pada saat berada di kantor polisi maupun di KJRI Jeddah, mengenai alasan mengapa ia begitu lama tidak menghubungi keluarga, Juariah menjawab, dirinya baik-baik saja.


Ia mengaku, betah bersama majikan dan keluarga majikan, dan selama ini semua hak-haknya dipenuhi oleh majikan. Ia pun menegaskan, bahwa perlakukan majikan dan keluarganya yang begitu baik membuatnya lupa menghubungi keluarganya sendiri.


“Gaji lancar tiap bulan 600 (riyal). Saya simpan di kamar. Pekerjaan tidak berat. Saya cuma bersih-bersih rumah dan nyuci baju. Keluarga majikan ada tujuh di rumah. Saya kerja tidak kaya pembantu. Kalau ada makan-makan besar (pesta), kerja semua. Kalau saya capek, saya tidur dan enggak dibangunin biar 24 jam,” tuturnya.


Juariah bahkan menyatakan ikhlas tidak minta naik gaji kepada majikan, karena dirinya telah diperlakukan begitu baik oleh majikan.


Untuk memastikan kepada pihak keluarga Juariah di kampung halaman, bahwa keadaan dirinya sehat dan baik-baik saja, pada Selasa, 3 Januri 2017, Konjen RI Jeddah, M Hery Saripudin, bersama Juariah berkomunikasi langsung melalui video call dengan orang tuanya, Mastara beserta keluarga, di kampung halaman yang difasilitasi oleh salah satu LSM.


Didampingi Pelaksana Fungsi Konsuler-1 yang merangkap Koordinator Perlindungan Warga, Dicky Yunus, dan Staf Teknis Ketenagakerjaan KJRI Jeddah, Hertanto Setyo, Konjen RI Jeddah, meyakinkan Juariah agar pulang ke kempung halaman dan kembali ke tengah keluarga yang telah lama merindukan kepulangan dirinya.


“Kasian bapak-ibu kamu di rumah, saudara-saudaramu. Mereka sudah lama mencari-cari kabar tentang keberadaan kamu, menanyakan ke sana kemari kesehatan dan keselamatan kamu. Semua orang dibuat gelisah. Pulang saja ya,” bujuk Konjen kepada Juariah yang dijawabnya dengan anggukan.


Saat ini, KJRI Jeddah juga masih mengurus hak-hak Juariah selama bekerja dengan majikannya. Setelah semua haknya dipenuhi, langkah selanjutnya adalah pengurusan dokumen perjalanan Juariah yang membutuhkan waktu, mengingat statusnya kini adalah overstayer karena ia tidak pernah melakukan pembaharuan masa berlaku dokumen.


Menurut catatan, masa berlaku paspor Juariah berakhir pada tanggal 19 Desember 1999, dan sejak kedatangannya di Arab Saudi 1997, ia tidak pernah melakukan penggantian paspor, demikian pula kartu izin tinggalnya (iqamah) selama bekerja dengan keluarga majikan.


Selain itu, ditemukan pula pemalsuan data dirinya. Di paspornya, Juariah kelahiran tanggal 25 Mei 1967, sementara di KTP tertera ia kelahiran tanggal 25 bulan Mei 1977.


Juariah dinyatakan hilang kontak sekitar 19 tahun silam, sejak dirinya berangkat ke Arab Saudi, pada tahun 1997 untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan hanya sekali berkirim surat kepada pihak keluarga. Setelah itu, keberadaan Juariah tidak diketahui entah di mana.

Komentar