Minggu, 21 Januari 2018 | Cianjur, Indonesia

Puluhan Hektar Sawah Diserang Wereng Coklat, Petani Tiga Desa Gagal Panen

Apip Samlawi, Rustandi Zaelani

Selasa, 07 Februari 2017 - 15:10 WIB

A A A

BERITACIANJUR.COM - Petani Padi di Desa Kertamukti, Kertasari dan Cipeuyeum, Kecamatan Haurwangi,  dipaksa harus menerima kenyataan pahit, saat puluhan hektar sawah milik mereka gagal panen akibat serengan hama wereng coklat.

Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk menggunakan sejumah insektisida dan festisida, namun tetap padi yang sudang menguning untuk dipanen, tidak terselamatkan. Kerugian akibat serangan hama kali ini, ditaksi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Seperti diceritakan Agus Pahrudin (43), tanaman padi yang telah dirawatnya selama 90 hari, sama sekali tidak bisa dipanen. Padahal, dengan luas sawah 2800 meter persegi, biasanya bisa menghasillan gabah basah sekitar 1,2 ton.

“Sekarang mah sama sekali tidak bisa dipanen, karena semua hancur diserang hama wereng. Padahal umur padi, sudah memasuki masa panen,” kata Agus, petani yang selama ini bergabung di Kelompok Tani Sukatani, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurwangi, Cianjur.

Agus mengaku, berbagai cara telah dilakukan agar tanaman padi miliknya bisa diselamatkan. Namun aneh, hama wereng coklat yang bisa menyerang batang padi hinga patah, tidak bisa diberantas meski sudah memakai insektisida yang dianggap petani paling jitu memberantas wereng.

“Hampir dua kali dalam sehari, kita menyemprotkan insek ke areal padi kita, tapi anehnya hama wereng itu tidak pernah bisa mati. Setiap pagi ke sawah, beberapa bagian sawah sudah tampak gundul, karena batang padi habis digerogoti wereng,” ungkap Agus saat ditemui Harian Berita Cianjur, di sekitar areal sawahnya.

Masih kata Agus, sekitar 25 hektar lahan pertanian padi milik petani lainnya, juga mengalami hal serupa. Kalau dihitung dengan para petani di tiga desa yang saat ini gempar terkena dampak hama wereng, jumlahnya bisa mencapai ratusan hektar lebih.

Ibon (64) warga Parungbitung RT 03/02, mengakui bencana hama wereng yang terjadi pada musim  tanam padi tahap I awal tahun ini, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar. Para petani, kini bingung, karena untuk memulai musim tanam baru, membutuhkan dana yang tidak sedikit.

“Bencana hama wereng coklat sekaran paling parah, sehingga banyak petani yang mengaku keder untuk kembali bertani. Tidak menutup kemungkinan, banyak petani yang bangkrut dan menggadekan sawah sebagai jalan satu-satunya untuk bertahan hidup,” beber Ibon.

Pada musim tanam awal tahun ini, Ibon mengaku dirinya menanam padi dengan varietass Mikongga yang dibeli dari BPBP Kecamatan Haurwangi, seharga senilai Rp 15 ribu per kantong dengan berat 5kg. Namun, meski bibitnya berasa dari Balai Pertanian yang dikenal petani, merupakan lembaga peneliti pertanian di Cianjur, tetap saja tidak bisa tahan terhadap serangan wereng coklat.

“Awalnya kan kami petani awam ini, percaya saja kalau bibit padi dari Balai itu tahan berbagai macam penyakit, termasuk wereng coklat yang selama ini jadi momok bagi petani padi. Tapi kenyataanya, sama saja seperti bibit padi biasa yang dikembangkan petani lokal di sini,” sindirnya

Terpisah, Ketua Poktan Sukatani Endang Purnama (45)  di Kampung Parungbitung RT,01/02, Desa Kertamukti, menyebut puluhan hektar lahan pertanian milik anggotanya, mengalami gagal panen karena serangan hama wereng.

Endang mengungkap, sebelum serangan hama wereng meluas dan merugikan petani seperti sekarang, pihaknya telah melaporkannya ke UPTD Pertanian Kecamatan Haurwangi, terutama ke bagian Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan.

“Kita bahkan sempat tejun langsung ke sejumlah  pertanian padi yang terdampak, namun pihak UPTD tidak hanya bisa menyarankan untuk melakukan penyemprotan dengan menggunakan obat pertanian tetentu. Karena obatnya tidak bisa diberikan pihak UPTD, jadi penanganan bisa dibilang sangat terlambat,” akunya.

Disebutkan Endang, serangan hama wereng coklat awalnya hanya terjadi di beberapa wilayah saja termasuk di area pertanian padi yang dikelola Poktan Sukatani saja. namun karena penanganan sangat telat, akhirnya meluas ke hampir semua pertanian padi yang ada di tiga Desa di Kecamatan Haurwangi.

Camat Haurwangi, Djadjat Sudradjat yang ditemui di kegiatan Monitoring dan Evaluasi di Desa Kertamukti, menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan UPTD Pertanian di wilayahnya, terutama melakukan upaya pencehagan agar serangan serupa, tidak terjadi ke areal pertanian padi lainnya.

“Sebetulnya ini masalah yang harus ditangani Dinas Pertanian Cianjur melalui pegawai UPTD nya. Tapi karena menyangkut dengan kondisi masyarakat secara luas, saya akan segera melakukan koordinasi dengan berbagai pihak tadi,” ucap Camat singkat.

Kejadian serang hawa wereng coklat, bukan hanya terjadi di tiga Desa di Haurwangi, sebelumnya ratusan hektar lahan padi Pandanwangi yang dikenal sebagai verietas padi unggulan Kabupaten Cianjur, juga mengalami gagal panen.

Serangan hama wereng terhadap pertanian Pandanwangi, terjadi di Kecamatan Campaka beberapa waktu lalu. saat itu, puluhan petani mengalami kerugian cukup signifikan akibat padi yang hanya bisa dipanen dalam waktu enam bulan sekali itu, hancur tidak bisa terselamatkan sama sekali.

Sejumlah Poktan dan Gapoktan yang di Kabupaten Cianjur, sempat melakukan upaya dialog dengan Dinas Peranian, terkait penanganan hama wereng coklat yang belakangan ini menggila dan mengakibatkan kerugian yang cukup signifikan bagi para petani padi di Kabupaten Cianjur.

Pejabat Dinas Pertanian sebelumnya, Dadan Hermilan, sempat berkomentar, kalau pihaknya akan melakukan berbagai upaya agar serangan hama wereng coklat bisa dikendalikan, sehingga tidak terus menerus merugikan petani padi di Cianjur.

“Kita sedang mencoba mencari fomula agar hama wereng di Kabupaten Cianjur bisa terkendalikan, apalagi kalau sampai bisa dimusnahakan. Salah satu upayanya, dengan memanggil para ahli pertanian di lembaga pertanian kredibel,” jelas Dadan saat dirinya menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian.

Komentar Berita

Berita Lainnya

Aktualita 19/01/2018 13:13 WIB

Pemkab Cianjur Tolak Kebijakan Impor Beras

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur menolak kebijakan impor beras yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Hal itu diungkapkan, Wakil Cianjur, Herman Suherman, saat menghadiri acara panen raya padi di…

Aktualita 19/01/2018 08:00 WIB

Terbongkar, RSUD Masih Berkilah

PENYEBAB amburadulnya pengelolaan limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur, sudah terbongkar. Namun pejabat rumah sakit plat merah tersebut masih…

Aktualita 19/01/2018 07:55 WIB

Komisi III Sidak, Pejabat RSUD Tak Ada di Tempat

KOMISI III DPRD Cianjur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Sayang Cianjur, Kamis (18/1/2018) siang.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:54 WIB

Aksi Maling Zaman Now

AKHIR-akhir ini kawanan maling spesial kantor desa tengah giat melancarkan aksinya ke sejumlah desa di wilayah Timur Kabupaten Cianjur.

Cianjur Euy 18/01/2018 22:53 WIB

Pencetakan e KTP Dipusatkan di Kecamatan Ciranjang

PEMERINTAH Kabupaten Cianjur menunjuk Kecamatan Ciranjang sebagai tempat pusat layanan pembuatan e-KTP dan Kartu Keluarga (KK) bagi masyarakat yang ada di 5 Kecamatan. Antaralain, Kecamatan Ciranjang,…

Cianjur Euy 18/01/2018 21:52 WIB

Harga Daging Ayam di Cianjur Masih Capai Rp 36 Ribu Per Kg

MESKI harga daging ayam potong di Cianjur disepakati Rp 33 ribu per kilogram (Kg). Namun, dipasaran harga daging unggas itu masih terbilang mahal, mencapai Rp 36 ribu per kg.

Cianjur Euy 18/01/2018 21:51 WIB

Polres Sidak Sekolah, Sejumlah Siswa Terbukti Simpan Video Porno

PASCA terungkapnya pesta seks sesama jenis, yang satu diantara pelakunya masih berstatus pelajar. Polres Cianjur gencarkan sosialisasi dan antisipasi dengan menyambangi sejumlah SMA/SMK di Kabupaten Cianjur,…

Cianjur Euy 18/01/2018 21:50 WIB

Bulan Ini, Pasien Difteri Capai 15 Orang

PASIEN Difteri yang ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang, Cianjur jumlahnya terus bertambah. Sejak awal 2018, jumlah pasien penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi di selaput lendir hidung…

Aktualita 18/01/2018 08:10 WIB

BPLHD dan Penyidik Polda Jabar Datangi RSUD, Ada Apa?

SEGUDANG masalah terjadi di RSUD Sayang Cianjur. Tak hanya soal limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dibiarkan menumpuk di ruangan terbuka, namun juga terdapat dua masalah besar lainnya yang hingga…

Aktualita 18/01/2018 08:05 WIB

Ini Pembohongan Publik, Wajib Diusut Tuntas

TERUNGKAPNYA kebohongan pernyataan pihak RSUD melalui Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, yang menyebutkan permasalahan menumpuknya limbah medis bahan berbahaya dan beracun (B3) itu gara-gara kesalahan…