Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 01:36

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

retro

Perayaan Cap Go Meh di Cianjur berlangsung Meriah

Oleh: Muhammad Kurnawan - Kamis 16 Pebruari 2017 | 21:48 WIB

Perayaan Cap Go Meh di Cianjur berlangsung Meriah

Foto: BC/Muhammad Kurnawan

Sempat Dikabarkan Batal

 

BERITACIANJUR.COM - Suasana keragaman begitu tampak indah tersaji di ruas Jalan Mangunsarkoro, saat sekitar 300 orang warga Tionghoa, melaksanakan perayaan Cap Go Meh, pada Selasa (14/2/2017) malam.


Perhelatan budaya Tionghoa, seperti atraksi liong dan barongsai, meliuk menyusuri jalan yang padat dengan ribuan orang Cianjur. Padahal, sebelumnya beredar kabar, kalau Cap Go Meh tahun ini (2017), hanya akan dilaksanakan di dalam Vihara.


Suara beberapa tabuhan instrument musik etnik China, makin memeriahkan malam Cap Go Meh yang sudah rutin dilaksanakan di Kota Santri ini. Masyarakat pribumi yang notabenenya beragama Islam, malam itu menyatu dengan atmosfer warga keturunan yang menyakini perayaan hari ke-15 awal tahun baru China itu adalah prosesi untuk meminta berkah ke para Dewa.


Ketua Panitia Cap Go Meh Vihara Bhumi Pharsjia, Lucas Lukman Santoso mengatakan, perayaan Cap Go Meh harusnya dirayakan pada 11 Februari kemarin, tetapi khusus di Cianjur, dirayakan pada hari ke-18.


Lucas mengaku, bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini merupakan tugas terakhirnya, karena untuk tahun berikutnya telah terpilih ketua yang baru, yaitu Ko Weweh.


Berdasarkan ritual yang menggunakan Sio Pieh, Ko Weweh mendapat restu untuk menjabat Ketua Kegiatan yang dilaksanakan di Vihara.


Terkait soal rencana awal kegiatan yang hanya dilaksanakan di lingkungan Vihara, Lucas membenarkan masalah itu. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Cap Go Meh bisa dilaksanakan di Jalan Mangunsarkoro, meski jarak terbatas hanya 200 meter termasuk mempertimbangkan animo masyarakat yang membludak.


“Memang sebelumnya, Perayaan Cap Go Meh hanya dilakukan di dalam Vihara. Kami juga awalnya tidak ingin perayaan ini merusak taman yang baru saja dibangun Pemerintah Kabupaten Cianjur. Tapi karena begitu besar harapan masyarakat terlibat dan ingin menyaksikan acara, akhirnya kita mendapat ijin untuk ke luar,” katanya.


Menurutnya, jumlah umat Vihara hanya seratusan tetapi melihat yang hadir untuk keturunan Tionghoa, sekitar 300 orang yang berasal dari Sukabumi dan Bogor. Sebagian besar hanya berkunjung dan turut merayakan Cap Go Meh di Cianjur, saling mengunjungi, begitu pula yang dari Cianjur juga kemarin berkunjung ke perayaan Cap Go Meh Bogor dan Sukabumi.


Ia Menjelaskan, acara dimulai dengan Barongsai dan peragaan Liong dan dilanjutkan dengan menggotong Joli. Joli pada Cap Go Meh merupakan simbolis Dewa-dewa, atau bisa juga disebut Nenek Moyang, pahlawan atau orang bijaksana yang disucikan. Joli pada perayaan Cap Go Meh di Vihara ada tiga yaitu, Dewi Kwan Im, Ho Tek Bio atau Hok Tek Cen Sin, dan Co Su Kong.


“Ho Tek Bio adalah tuan rumah Cap Go Meh ini, dan Co Su Kong adalah Dewa yang berwajah Hitam. Sebenarnya ada 11 altar Dewa, tetapi hanya tiga dewa yang digotong menggunakan Joli, karena sudah tradisi dari dulunya,” ujarnya.


Mendetail, Lucas menjelaskan, selain 3 dewa tersebut, ada pula Ketuhanan Yang Maha Esa, Altar Tiga Dewa, Kwan Kong, Dewa Uang atau Dewa Rezeki, Sien In Kupoh, dan Seng Buninio. Seluruh dewa memiliki sejarah historis yang melatar belakangi. Sebagai contoh Kwan Kong merupakan seorang Jendral perang yang sangat disegani, baik hati dan bijaksana.


“Sien In Kupoh merupakan tuan rumah Vihara yang di Karawang, di sini juga ada, tetapi bukan tuan rumahnya, di sini tuan rumahnya Ho Tek Bio, Bio itu artinya Vihara dan saat ini sudah diganti namanya menjadi Vihara Bhumi Pharsjia,” jelasnya.


Tiga Joli pada perayaan Cap Go Meh, seluruhnya dihiasi dengan bermacam jenis bunga, seperti Mawar, Tulip, Crisan, dan Orchid yang nanti pada akhir acara akan menjadi rebutan warga Tionghoa yang hadir untuk mengharapkan rejeki, terutama bagi yang usahanya berdagang.


“Joli dapat digotong oleh siapapun, baik wanita atau pria, kecuali Joli Dewi Kwan Im harus digotong oleh wanita saja, tidak dibenarkan laki-laki mengangkatnya. Itu yang menjadi tradisinya dari dulu hingga sekarang,” katanya.


Pukul 21.00 WIB, karena semakin membludaknya penonton hingga pergerakan di dalam Vihara sudah sangat terbatas, akhirnya Perayaan Cap Go Meh mendapatkan ijin melangsungkan acara hanya di ruas jalan depan Vihara. Barongsai dan Liong (naga Emas) juga dihadirkan kembali, yang sebelumnya ditiadakan, mengingat ruangan Vihara yang tidak cukup untuk menampilkannya.


Penonton semakin antusias, Tuti (42), warga Jalan Arif Rahman Hakim yang sedang menggendong anaknya, sengaja datang untuk melihat atraksi yang biasanya menyertai Perayaan Cap Go Meh.


“Saya dengan keluarga, awalnya tidak mengetahui ada Cap Go Meh malam ini, tetapi karena ada suara ramai genderang akhirnya saya ke sini sekeluarga, tadi susah sekali masuk ke dalam Vihara, penuh banget, kalau di luar seperti ini jadi lebih mudah nontonnya,” ungkapnya.


Tak Pelak, diakhir acara bunga yang menghiasi Joli jadi rebutan warga keturunan Tionghoa. Meskipun panitia sudah memperingati warga akan bahaya listrik yang digunakan sebagai sumber daya lampu hias pada setiap Joli, namun warga yang berebut tidak mengindahkannya. Panitia hanya bisa pasrah menunggu kerumunan berhenti. (rst)

Komentar