Rabu, 18 Oktober 2017 - Pukul 10:50

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

retro

Petani Memilih Panen Lebih Awal

Oleh: Muhammad Kurnawan/Mustofa - Minggu 19 Pebruari 2017 | 22:43 WIB

Petani Memilih Panen Lebih Awal

Foto: BC/Muhammad Kurnawan

Khawatir Buliran Padi Membusuk Akibat Curah Hujan Tinggi

 

BERITACIANJUR.COM - Tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, membuat para petani di sepanjang Jalan Raya Bandung, daerah Sadang, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, lebih memilih memanen padi mereka lebih awal. Hal itu dilakukan untuk menghindari padi membusuk akibat banyak terendam air.


Menurut salah seorang petani, Yoyo Supian (45), tanaman padi di lahan miliknya sebenarnya belum saatnya untuk dilakukan panen. Namun karena pertimbangan cuaca dengan curah hujan masih cukup tinggi, ia pun memutuskan untuk memilih panen lebih awal.


“Sengaja di panen lebih awal, mengingat cuaca yang kurang mendukung. Ditakutkan nantinya malah rusak semua, bisa busuk kalau terus-terusan terendam air hujan seperti saat ini,” kata Yodo, Kamis (16/2/2017).


Diakuinya, akibat panen lebih awal berdampak pada jumlah padi yang dihasilkan. Meski demikian, pihaknya mengaku lebih yakin masih untung dibandingkan memanen hingga pada waktunya, jika cuaca masih seperti saat ini yang sering turun hujan.


"Pasti akan terjadi penyusutan, karena buliran padi belum tua semuanya. Tapi saya rasa tidak akan banyak penyusutan dibandingkan menunggu sampai saatnya penen. Bisa-bisa padi semuanya akan membusuk karena terendam air terus menerus. Paling kalau biasanya panen 6,5 ton, karena lebih awal menjadi 5,5 ton," paparnya.


Selain memanen lebih awal, ia masih bersyukur karena tanaman padinya tidak ikut diserang hama wereng, seperti sawah lainnya. Hanya saja masalah air yang terus menerus menggenang menjadi masalah karena terus menerus diguyur hujan.


“Serangan hama tidak ada, tapi curah hujan tinggi yang jadi masalah, karena pada proses pematangan padi kondisi air harus kering, bisa busuk nanti padinya kalau dibiarkan terlalu lama,” jelasnya.


Berbeda dengan, Yuyun (45), petani lainnya. Ia mengaku, sawahnya memang sudah waktunya masa panen, sehingga tidak khawatir akan mengalami penyusutan hasil panennya.


“Sudah waktunya panen, jadi saya tidak khawatir masalah penyusutan, mudah-mudahan hasilnya untuk musim panen sekarang lebih banyak dari yang lalu," harapnya.


Berbeda dengan petani yang ada di wilayah Kecamatan Cugenang. Meski sudah panen pada saatnya, hasil panennya jauh menurun akibat terserang hama. Selain kualitas hasil panennya yang tidak bagus, para petani mengaku merugi, karena tidak berimbang dengan biaya tanam.


"Hasil padinya jelek panen kali ini, mungkin karena tadinya sempat terserang hama ditambah lagi cuaca yang kurang bersahabat, buliran padinya tidak bisa berkembang maksimal. Biasanya dapat satu ton, kali ini setengahnya saja sudah untung," kata Enang (47), petani di Desa Sukamanah, Kecamatan Cugenang.


Ia mengaku, panen kali ini dirasakan panen yang terburuk sepanjang ia menanam padi. Karena padi yang dihasilkan tidak sebanding, jika dijual dengan biaya menanam dan merawat padi hingga panen.


"Kalau dihitung sama biaya menanam, beli obat dan lainnya, panen kali ini pas-pasan, bahkan merugi," katanya. (bis)

Komentar