Kamis, 17 Agustus 2017 - Pukul 16:55

Image
Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

Desa Gadog 'Kawasan Prostitusi', Gencar Sosialisasi HIV/AIDS

Oleh: Asri Fatimah - Kamis 03 September 2015 | 12:00 WIB

Desa Gadog 'Kawasan Prostitusi', Gencar Sosialisasi HIV/AIDS

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM, PACET – Mendapat julukan sebagai kawasan prostitusi ternyata mendorong pemerintahan desa (pemdes) Gadog Kecamatan Pacet mengadakan sosialisasi tentang bahaya penyakit HIV/AIDS. Pasalnya, cara penularannya virus itu selain akibat hubungan seks tanpa pengaman juga melalui tranfusi darah atau alat suntik.

 

Kegiatan sosialisasi itu digagas sebagai bagian dari upaya untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar akan bahaya penyakit ganas tersebut.  Masyarakat bisa mengetahui cara penanganan sekaligus pencegahannya sehingga tidak terjangkit.

 

Menurut Kepala Desa Gadog, Isa Saepudin, tidak dipungkiri jika wilayahnya sudah dikenal luas sebagai tempat lokalisasi. Sehingga potensi terjangkitnya penyakit HIV/Aids tersebut merupakan keniscayaan ditengah adanya kecendrungan pergaulan bebas tersebut. Untuk itu, masyarakat harus diingatkan kesadarannya akan pentingnya memahami penyakit tersebut yang hingga kini belum diketahui obatnya.

 

"Kita ajak kader posyandu yang ada disini untuk mengetahui secara detail bagaimana gejala HIV/Aids tersebut. Lalu apa saja penyebabnya serta sikap kita harus seperti apa terhadap orang pengidap penyakit itu,” katanya.

 

Isa menambahkan, kaum ibu harus memiuliki pengetahuan yang cukup mengenai HIV/Aids ini, apalagi saat ini 60 persen pengidapnya adalah ibu rumah tangga. Penyebabnya bisa ditularkan dari suaminya yang melakukan hubungan seks diluar tanpa pengaman atau bisa juga sebaliknya.  Bahkan,

penularannya juga bisa melalui jarum suntik atau tranfusi darah yang terjangkiti virus HIV/Aids.

 

"Kita harus mensosialisasikan penyakit tersebut agar tidak ada penularan lagi. Sehingga jika mereka sudah tahu kalau di keluarganya ada yang mengidap HIV/Aids bisa di antisipasi penularannya. Carantya bukan dengan menjauhinya malah hal itu bisa salah dalam penerapannya," katanya.

 

Kader posyandu Melati Dua, Rohanah (43), menyebutkan jika kegiatan sosialisasi ini juga tak bisa lepas dari citra buruk gadog sebagai tempat lokalisasi. Sehingga diperlukan upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat agar bisa mengantisipasi sejak dini penularan HIV/Aids. (ree)

 

Komentar