Jumat, 20 Oktober 2017 - Pukul 03:03

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

sosialita

Hapus Stigma Pasien ODGJ tidak Bisa Disembuhkan

Oleh: Herry Febriyanto - Rabu 01 Maret 2017 | 13:44 WIB

Hapus Stigma Pasien ODGJ tidak Bisa Disembuhkan

Foto: BC/Herry Febriyanto

BERITACIANJUR.COM - Mengubah pandangan masyarakat, jika Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tidak bisa disembuhkan ternyata belum sepenuhnya benar. Jika terus diobati secara rutin dan mendapatkan dukungan dari keluarga serta masyarakat, pasien ODGJ bisa kembali menjalani hidup seperti semula.


Menurut Dokter Spesialis Jiwa, RS Dr H Marzoeki Mahdi Bogor, dr Lahargo Kambaren Sp Kj, keluarga dan lingkungan masyarakat sangat berperan dalam mempercepat proses penyembuhan. Karena sekarang yang menjadi tantangan berat, melawan stigma dan diskriminasi ODGJ adalah orang gila dan tidak waras.


“Akibatnya yang timbul, mengganggu pasien ODGJ untuk sembuh kembali. Sekarang, bagaimana caranya bisa mengembalikan hak azasi mereka, agar bisa seperti sediakala, karena banyak dari pasien kembali sekolah dan bekerja,” ujarnya kepada “BC”, Selasa (28/2/2017).


Dijelaskannya, orang dengan gangguan jiwa termasuk dalam kategori memiliki gangguan medis dan banyak persepsi masyarakat yang mengatakan, non medis harus dirubah. Karena secara medis, pasien ODGJ memiliki gangguan di syaraf otaknya dan harus ditangani secara komprehensif.


Ada beberapa tahapan pengobatan bagi pasien ODGJ, berupa pemberian obat, psikoterapi hingga rehabilitasi psikososial. Dimana setiap psikiater memiliki target atau fase-fase penyembuhan, dari mulai pemberian obat dengan dosis yang disesuaikan sampai gejala hilang.


Lalu, fase stabilisasi dari 6 bulan hingga 2 tahun, dengan pemberian obat secara teratur dan rajin kontrol. Hingga pengurangan dosis obat secara bertahap sampai kecil dan berhenti tidak minum obat.


“Ada program yang namanya rehab psikososial, sehingga tidak terjadi yang namanya fenomena revolving door atau kambuh kembali, ketika berada di tengah keluarga dan masyarakat,” katanya.


Melalui program rehab psikososial tersebut, keluarga diajarkan bagaimana caranya mengontrol pengobatan pasien ODGJ. Karena dalam proses penyembuhan, obat memiliki peranan penting sama seperti pasien yang memiliki penyakit diabetes dan jantung yang harus meminum obat secara teratur.


“Targetnya, bagaimana gejala yang diderita pasien bisa hilang,” tandasnya.


Diungkapkannya, saat ini sudah banyak pasien ODGJ yang sembuh total dan bisa beraktivitas kembali, dari mulai sekolah hingga bekerja dan menjadi tulang punggung bagi keluargnya. (rr)

Komentar