Minggu, 25 Juni 2017 - Pukul 07:12

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

ekonomi bisnis

Lonjakan Harga Sulit Dikendalikan

Oleh: Nuki Nugraha - Kamis 03 September 2015 | 14:00 WIB

Lonjakan Harga Sulit Dikendalikan

ilustrasi/net

BERITACIANJUR.COM, JAKARTA – Pemerintah dianggap tidak memiliki instrumen tepat dan cendrung hanya bermain di tataran retorika dalam mengatasi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok yang terjadi beberapa waktu lalu.

 

"Sampai saat ini pemerintah belum memiliki kebijakan yang tepat untuk mengendalikan harga-harga, padahal permintaan pangan selalu naik 5 persen per tahunnya. Kemungkinan kita memang tidak memiliki instrumen yang baik untuk mengendalikan harga,” ujar pengamat pangan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori kepada media, Rabu ( 2/9/2015).

 

Ia mengungkapkan, persoalan kenaikan harga ini selalu berulang dari tahun ketahun dan tak pernah mendapatkan jalan keluar yang memuaskan, terutama dari sisi konsumen.

“Masyarakatlah yang paling terkena imbasnya, kalau bahan bahan pokok seperti beras, cabai, bawang merah, daging dan lainnya mengalami kenaikan,”terangnya.

 

Menurutnya, saat ini semua pengendalian harga bahan pokok diserahkan ke mekanisme pasar bukan langsung diputuskan oleh pemerintah. Selain itu, pemerintah hanya bermain di tataran retorika dan tidak langsung melakukan aksi di lapangan.

 

Dijelaskan bahwa diluar harga beras, ada daging, sayur-sayuran dan bahan pokok lainnya yang selalu dilimpahkan ke mekanisme pasar. “Inilah yang kemudian membuat rakyat ketar-ketir. Karena ada kenaikan harga bahan pokok di beberapa daerah," terang Khudori.

 

Sebetulnya, lanjut Khudori ada pihak yang memiliki hak mengendalikan harga pasar, namun hingga kini pihak tersebut tidak diberikan wewenang dalam mengendalikan harga di pasaran yaitu Bulog. Lembaga ini didesain untuk memiliki cadangan kebutuhan pokok yang dapat dilepas kapan pun untuk membuat harga stabil.

 

Tetapi, hal itu tidak dapat dilakukan, karena birokrasi yang mengharuskan ada perintah dari pemerintah dan administrasi yang perlu diselesaikan sebelum menggelontorkan pasokan.

 

“Jadi sebetulnya Bulog seperti pasukan tempur yang tidak dibekali amunisi yang memadai, akhirnya apa, ya setengah-setengah melakukan pengendalian harga," katanya.

 

Hal senada dikatakan Guru Besar Fakultas Pasca Sarjana Ekonomi Universitas (UI) Prof Didik J Racbini. Menurutnya, jika ingin harga bahan pokok stabil, maka Bulog harus diberdayakan. “Bulog jangan disingkirkan seperti saat ini. Kalau Bulog sudah bekerja namun harga tidak stabil, berarti pemerintah harus turun tangan,” kata Didik.

 

Menurut Didik, untuk itu perlu dilakukan operasi pasar sebab pedagang banyak juga yang menimbun barang untuk menaikkan harga. Jika harga bahan pokok sampai tidak turun setelah dilakukan operasi pasar, menurut Didik bukan operasi pasar sungguhan. Karena jika sungguh-sungguh pasti harga bisa turun.(net)

Komentar